Aceh Utara

Teuku Rizki El-Sinki Bikin Panggung Bertutur Bergemuruh, Sejarah Aceh Disuarakan dengan Api Sastra

Teuku Rizki El-Sinki Bikin Panggung Bertutur Bergemuruh, Sejarah Aceh Disuarakan dengan Api Sastra

Banda Aceh — Suasana perlombaan Bertutur Sejarah yang digelar Komunitas Seuramoe Heritage berlangsung penuh penghayatan ketika Teuku Mahadiradja Rizki El-Sinki tampil membawakan puisi berjudul “Aceh, Tanah yang Tak Pernah Diam.”

Dengan pembawaan yang kuat dan penuh ekspresi, Rizki El-Sinki mengajak para penonton menyelami perjalanan panjang Aceh melalui bait-bait puisi yang mengangkat sejarah, perjuangan, ulama, serta jejak para pendahulu yang membentuk identitas Aceh.

Setiap bait disampaikan dengan intonasi dan gestur yang menegaskan pesan bahwa sejarah Aceh bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan yang terus hidup dan memiliki makna bagi generasi hari ini.

Puisi tersebut menggambarkan Aceh sebagai tanah yang sarat dengan perjalanan sejarah. Dari kejayaan kesultanan, perjuangan para ulama dan pejuang, hingga berbagai fase perubahan zaman, semuanya menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Aceh.

Penampilan Rizki El-Sinki pada Minggu (27/09/2026) juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan sejarah melalui pendekatan seni dan sastra. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kedekatan dengan sejarah daerah agar tidak kehilangan akar identitas di tengah perkembangan zaman.

Melalui “Aceh, Tanah yang Tak Pernah Diam”, pesan yang disampaikan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga bagaimana generasi muda mengambil pelajaran dari sejarah untuk membangun masa depan Aceh.

Penampilan tersebut mendapat perhatian dari peserta dan penonton yang hadir. Panggung bertutur sejarah pun menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan kembali kisah Aceh melalui kreativitas, sastra, dan ekspresi budaya.

Bagi Teuku Mahadiradja Rizki El-Sinki, sejarah Aceh harus terus dituturkan agar tidak berhenti sebagai catatan dalam buku, tetapi tetap hidup dalam ingatan dan kesadaran generasi penerus.

Penampilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa bertutur sejarah tidak harus selalu disampaikan melalui narasi konvensional. Puisi menjadi medium yang mampu menghadirkan suasana, emosi, dan pesan sejarah secara lebih dekat kepada penonton, khususnya generasi muda yang menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Aceh.

Melalui karya tersebut, Rizki El-Sinki menempatkan sejarah sebagai sesuatu yang terus bergerak bersama zaman. Aceh yang disebut sebagai “tanah yang tak pernah diam” digambarkan memiliki perjalanan panjang yang dipenuhi dinamika, perjuangan, perubahan, serta nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kegiatan Bertutur Sejarah Seuramoe Heritage sendiri menjadi ruang bagi masyarakat dan generasi muda untuk kembali mengenal berbagai jejak sejarah Aceh melalui cara yang kreatif.

Kehadiran seni tutur, puisi, dan ekspresi budaya diharapkan dapat membuat sejarah terasa lebih dekat sekaligus mendorong kepedulian untuk merawat warisan sejarah yang ada di Aceh.

BERITA TERKAIT