Aceh Utara

Rambu Hilang di Tikungan Simpang Dama, Warga Aceh Utara Minta Pemerintah Bertindak

Foto: Imum Mukim Jrat Manyang Tanah Pasir, M. Husen

Rambu Hilang di Tikungan Simpang Dama, Warga Aceh Utara Minta Pemerintah Bertindak

Foto: Imum Mukim Jrat Manyang Tanah Pasir, M. Husen

Aceh Utara – Pagi belum sepenuhnya terang ketika dua kendaraan bertemu di sebuah tikungan tajam di kawasan Simpang Dama, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara. Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, sekitar pukul 05.15 WIB, Toyota Fortuner dan Mitsubishi L300 bermuatan bibit udang terlibat kecelakaan di lokasi tersebut.

Kedua pihak telah berdamai. Namun, bagi warga, persoalan di tikungan itu belum selesai.

Yang tersisa adalah pertanyaan tentang keselamatan: mengapa penanda bahaya di tikungan yang dianggap rawan itu tak kunjung kembali?.

Keluhan tersebut disampaikan Imum Mukim Jrat Manyang, M. Husen. Ia menilai kondisi tikungan Simpang Dama membutuhkan perhatian serius pemerintah, terutama karena pengendara kerap keliru membaca kontur jalan ketika melintas dalam kondisi gelap.

Menurut Husen, tikungan tajam itu sekilas dapat terlihat seperti ruas jalan lurus. Tanpa rambu pengarah yang memadai, pengendara berisiko terlambat mengantisipasi perubahan arah jalan. Risiko itu semakin besar bagi kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi.

“ Ketiadaan lampu teks berjalan (running text) itu kian memperparah risiko berkendara di lokasi tersebut. Fasilitas keselamatan tersebut sebelumnya sempat berfungsi dengan baik, namun tidak kunjung dipasang kembali oleh pihak terkait sejak adanya proyek perluasan jalan beberapa tahun lalu,” kata Husen.

Ia mengatakan fasilitas running text sebelumnya menjadi salah satu penanda bagi pengendara untuk lebih berhati-hati ketika mendekati tikungan. Namun, fasilitas itu dibongkar ketika proyek pelebaran jalan berlangsung beberapa tahun lalu dan hingga kini belum dipasang kembali.

Bagi warga, rambu bukan sekadar benda yang berdiri di pinggir jalan. Ia adalah pesan pendek yang bisa datang beberapa detik sebelum bahaya: perlambat kendaraan, bersiap berbelok, jangan lengah.

Kecelakaan yang melibatkan Fortuner dan L300 pada Sabtu subuh itu, menurut Husen, telah diselesaikan secara damai oleh kedua pihak. Karena itu, ia tidak ingin insiden tersebut berhenti sebagai cerita tentang dua kendaraan yang bertabrakan.

Perhatian warga justru diarahkan pada kondisi jalan dan kelengkapan fasilitas keselamatannya.

“ Yang menjadi perhatian kami adalah rambu-rambu keselamatan,” ujar Husen.

Mewakili aspirasi masyarakat di sekitar Simpang Dama, Husen meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui instansi terkait segera mengambil langkah nyata. 

Ia berharap fasilitas running text dapat dipasang kembali, disertai rambu tambahan yang secara jelas memperingatkan pengendara mengenai keberadaan tikungan tajam.

Sebab, jalan tak selalu memberi kesempatan kedua.

Sebuah tikungan yang tampak biasa pada siang hari dapat berubah menjadi perangkap ketika malam turun, pandangan terbatas, dan sebuah kendaraan melaju tanpa sempat membaca tanda bahaya.

Bagi masyarakat Simpang Dama, memasang kembali rambu bukan semata memperbaiki fasilitas yang hilang. Itu adalah upaya sederhana untuk memberi jeda sejenak saja kepada pengendara agar sempat mengurangi kecepatan sebelum tikungan mengambil alih arah perjalanan.

Kini, warga menunggu tindakan pemerintah agar tanda bahaya itu kembali menyala, sebab menunda pembenahan fasilitas keselamatan ini sama saja dengan membiarkan tikungan Simpang Dama terus mengintai korban berikutnya.

BERITA TERKAIT