Aceh Utara – Harapan warga Gampong Prie, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara, untuk menempati hunian layak kini tinggal puing-puing. Sebuah proyek Rumah Bantuan Dhuafa yang didanai oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Aceh, kini terbengkalai.
Sudah enam bulan lebih bangunan itu tak tersentuh tangan tukang, membiarkan calon penghuninya tetap terhimpit kemiskinan di gubuk darurat.
Seorang penerima bantuan, yang bernama Nasrullah, menuturkan getirnya kondisi keluarga. Sejak proyek dihentikan pascabanjir besar tahun 2025 lalu, tidak ada lagi geliat pembangunan di lokasi. Padahal, ia dan istrinya harus memutar otak agar keempat anak mereka memiliki tempat berteduh yang manusiawi.
” Kalau malam, anak-anak sering saya mengungsi ke rumah ibu di gampong yang sama karena gubuk kami sangat tidak layak,” ujarnya dengan nada lirih, Kamis, 25 Juni 2026.

Alasan Kontraktor: “Kami Merugi”
Saat dikonfirmasi, Syukri, rekanan yang mengerjakan proyek tersebut, mengakui adanya penghentian pekerjaan. Ia berdalih bahwa bencana banjir besar di tahun 2025 menjadi penyebab utama proyek tersebut terhenti.
Menurut Syukri, kontrak pekerjaan telah berakhir (mati kontrak) akibat kendala cuaca ekstrem. Meski sempat diberikan opsi adendum, ia mengaku waktu yang tersisa tidak cukup karena lahan masih tergenang air saat itu.
” Saya pun rugi, Bang. Belum sempat menarik uang (termin), dan sekarang saya sedang berusaha mencari cara untuk bisa melanjutkan pekerjaan tersebut,” kata Syukri saat dikonfirmasi, Rabu, 24 Juni 2026.
Disparitas Informasi di Level Birokrasi
Kondisi mangkraknya proyek di lapangan justru tidak diketahui oleh otoritas terkait di tingkat kabupaten. Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Aceh Utara, Muhammad, saat dimintai tanggapan, mengaku tidak mengetahui adanya masalah tersebut.
Ketidaktahuan dinas teknis di daerah ini memunculkan tanya soal pengawasan proyek yang didanai oleh Pemerintah Aceh di wilayah tersebut. Hingga berita ini diturunkan, pihak Perkim Aceh belum dapat terhubung sampai berita ini tayang.
Kisah di Gampong Prie ini menjadi potret buram pelaksanaan bantuan rumah bagi warga dhuafa. Di atas kertas, bantuan tersebut diniatkan untuk mengentaskan kemiskinan. Namun, di lapangan, warga justru terjebak dalam ketidakpastian, menanti rumah yang tak kunjung rampung di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik.
Redaksi membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak Dinas Perkim Aceh maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan hak jawab atau tanggapan resmi.











