Aceh Utara — Di tengah gempuran tren digital yang kian menyita waktu generasi muda, sebuah pelestarian spiritual justru terus mengakar kuat di Kecamatan Tanah Pasir, Kabupaten Aceh Utara. Saban malam Jumat, di dalam Masjid Besar Al-Huda selalu menggema lantunan selawat yang dijaga oleh generasi.
Para penggeraknya adalah barisan pemuda yang tergabung dalam Remaja Masjid Besar Al-Huda. Mereka mengikat diri dalam komitmen kolektif, menghidupkan kembali tradisi meudalae.

Bagi masyarakat Serambi Mekkah, meudalae adalah tradisi keagamaan berupa pembacaan kitab Dalail Khairat secara bersama-sama dengan nada khas dan terdengar merdu. Kitab selawat warisan ulama asal Maroko abad ke-15 ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Islam di ujung Sumatra sejak era Kesultanan Aceh Darussalam.
Ketua Remaja Masjid Besar Al-Huda, Tgk. Zulhilmi A. Wahab, S.Sos., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut telah berjalan selama lima tahun terakhir.
”Kegiatan Dalail Khairat kami adakan di Masjid Besar Al-Huda ini setiap malam Jumat, dimulai pukul 21.00 WIB hingga selesai, dan telah berjalan sejak tahun 2021 hingga sekarang,” ujarnya pada Kamis Malam, 8 Oktober 2026.
Zulhilmi juga menjelaskan bahwa kegiatan Dalail Khairat di Masjid Besar Al-Huda terbuka untuk umum. Ia berharap kehadiran syiar tersebut dapat mengajak generasi muda untuk terus mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat.
”Mari kita alihkan diri dari aktivitas yang sia-sia. Isi waktu malam Jumat dengan lantunan zikir, selawat, serta doa, dan bersama-sama memakmurkan masjid. Bukan hanya pada waktu salat, tetapi juga dengan menghidupkan syiar Dalail Khairat serta menghadiri majelis ilmu. Semoga dengan amalan tambahan, kita dapat terus merawat keimanan kepada Allah dan Rasulullah,” tuturnya.
Malam kian larut, namun atmosfer di dalam masjid justru terasa kian khidmat. Bait-bait selawat karangan Imam al-Jazuli mengalun dengan nada khas yang terdengar merdu, dipimpin oleh beberapa syekh, yakni Tgk. Muhammad Danil Mubarrak, Tgk. Saifullah, Tgk. Eriandi Ishak, dan Tgk. Ramli. Pembacaan kitab yang syahdu itu diikuti dengan takzim oleh para remaja masjid, meleburkan diri ke dalam ukhuwah islamiyah yang erat.
Menariknya, syiar keagamaan ini tidak hanya menggema di lingkungan masjid. Grup Dalail Khairat Remaja Masjid (DKRM) Besar Al-Huda juga aktif di akar rumput. Mereka kerap diundang untuk mengisi berbagai acara hajatan warga, mulai dari acara sunat rasul hingga pesta perkawinan.
Lebih lanjut, Zulhilmi mengatakan, kehadiran mereka di tengah warga sebuah langkah kultural agar tradisi ini tidak asing di mata generasi baru.
”Lewat tradisi meudalae ini, kami hanya berikhtiar untuk tetap istikamah agar warisan indatu tidak hilang tergerus zaman,” pungkasnya.










